Iklan

Rabu, 25 Maret 2015

Assalamu'alaikum Darul Anwar: Seberkas cinta

Sudah hampir dua tahun lamanya aku berada di Pesantren ini, dua tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk dilalui. Rasa suka, duka, kecewa, marah, bahagia jadi satu di bumi santri ini. Ada kalanya saya harus bersusah payah mencari sendal. Sepertinya sendal merupakan barang yang amat cepat perginya, ibaratnya baru tadi pagi saya beli sendal di warung, eh sorenya sudah hilang dipakai santri lain yang gak punya sendal. kejadian ini berjalan terus menerus hingga saya akhirnya bosan untuk pakai sendal. Karena apa? setiap kali saya kehilangan sendal sudah dipastikan sendal itu hilang entah kemana karena mencari sendal diantara ratusan santri sangat sulit. Dari situ saya beli sendal yang baru, nemun apa yang terjadi seminggu kemudian sendal yang baru saya beli hilang juga. Keadaan ini ternyata berulang-ulang yang pada akhirnya saya malas beli sendal dan kemana-mana pakai sepatu, ya pakai sepatu alhasil karena pakai sepatu, saya aman gak "nyeker", sepatu saya pun aman karena memang beda dari yang lain.

Diantara rasa kaget saya berikutnya adalah tidur di Asrama kayu, dalam bahasa anak santri di sebut "Kobong". Namun bukan sembarang kobong karena di kobong tersebut saya harus tidur hanya dengan alas tikar tanpa bantal dan saya tidak sendiri, saya mesti berbagi dengan 10 santri yang tidur di sana. Betapa tersiksanya saya saat itu, namun karena banyaknya penduduk yang tinggal kobong saya bersyukur punya saudara yang banyak yang dapat berbagi walau hanya sedikit. Hari berganti hari, minggu berganti bulan dan tahun, diantara santri yang tinggal bersama saya di kobong tersebut satu persatu berkurang kemudian mereka pindah dan melanjutkan di tempat lain yang menurut mereka lebih menjanjikan termasuk sahabat saya yang kini melanjutkan S1 nya di Tunisia. Luar biasa sahabat-sahabat saya ini, di tengah keterbatasan baik sarana maupun sarana, diantara mereka ada yang memiliki prestasi yang menjanjikan, ada yang juara pidato bahasa Arab, juara pidato bahasa Indonesia dan terakhir itu tadi yang kuliah di Tunisia dan tidak sembarang melanjutkan tetapi dia mendapatkan beasiswa belajar disana.

Bagi saya pesantren ini adalah ladang cinta yang tak putus-putus, ibarat sinar mentari pagi, Pesantren Darul Anwar adalah seberkas Cinta yang menerangi Santri-santrinya. Seberkas sinar cinta yang akan selalu menaungi walaupun dengan keterbatasan yang dimiliki. Pesantren adalah lembaga pendidikan pertama dan tertua di Indonesia yang patut kita lestarikan, maka alangkah baiknya jika para siswa yang belajar di sekolah umum maupun sekolah Agama tetap mengenyam pendidikan pesantren sebagai proteksi dari berbagai ancaman perilaku dan proteksi dari paham-paham yang radikal yang memacu timbulnya Radikalisme dan kekerasan yang mengatasnamakan Agama. Semoga pendidikan ini tetap eksis di masa depan. Allahu Akbar! 

(Ditulis oleh Yadi Suryadi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar